Selamat datang di SYIFA AL QULUB

Keikhlasan dan Ketabahan Seorang Aisyah

3komentar

Hidup dan dibesarkan dalam sebuah keluarga yang sederhana, dididik dengan sangat disiplin dan keras menjadikan Aisyah sebagai seorang gadis yang sangat mandiri dan penuh kesabaran.

Tapi berbeda dengan adiknya sebut saja ia willy, dia begitu manja, susah diatur dan sangat keras kepala karena orang tuanya selalu memberikan apa yang dia mau dan tidak pernah memarahinya. Ketika Aisyah berusia 16 tahun disitulah ia mulai meraskan kehidupan yang benar–benar menguras air mata. Aisyah sangat dekat dengan ayahnya, walaupun ayahnya sangat keras dalam mendidik Aisyah tapi dia sangat peduli dengan apa yang di lakukan Aisyah termasuk pendidikan Aisyah .
“Aisyah, waktunya kamu belajar.” ayahnya dengan nada keras tetapi penuh perhatian.

“iya ayah……” Aisyah menjawab dengan menundukan kepala. Aisyah pun belajar dengan semangat karena ayahnya selalu menemani Aisyah belajar, sampai-sampai Aisyah selalu menjadi juara kelas.

“Aisyah, kamu harus jadi seorang Bidan supaya kamu bisa menolong sesama manusia” ayah berkata kepada Aisyah.

“iya Yah, aku ingin sekali menjadi bidan”. jawab Aisyah dengan semangat.

Tapi … takdir berkata lain, ayahnya tiba-tiba jatuh sakit, ayahnya menderita penyakit gagal ginjal sehingga ayahnya harus menjalankan perawatan medis di beberapa rumah sakit yang besar dan tidak sedikit pula biaya yang harus dikeluarkan oleh keluarga Aisyah. Aisyah selalu mendampingi ayahnya yang sedang berbaring di rumah sakit.

“Aisyah, cepat ambil buku, waktunya kamu belajar”. ayahnya memerintah dengan nada pelan.

“Tapi Aisyah harus nemenin ayah disini” Aisyah menolak.

“kamu belajar di samping ayah saja “ayah memaksa.

Walaupun ayahnya sedang sakit,tetapi dia begitu memperhatikan masalah pendidikan Aisyah dan selalu berusaha supaya Aisyah bisa mempertahankan prestasinya. Willy sangat berbeda dengan Aisyah, dia begitu cuek terhadap ayahnya,dia tidak mau menemani ayahnya, walaupun begitu, Willy adalah anak yang sangat pemberani dan tomboy makanya dia dijagokan oleh ayahnya.

“Will,kamu dipanggil ayah tuh..”

“ada apa ka?”Tanya Willy.

“ayah pingin kamu nemenin ayah,kamu mau kan? Ayah memohon kepada Willy.

“iya ayah……..”

Dua bulan kemudian ayah Aisyah meninggal dunia,Aisyah dan keluarganya tak henti-hentinya menangis, Ayahnya meninggal pada usia 39 tahun. Willy sangat histeris ketika ayahnya meninggal, karena dia sangat menyesal selama ayahnya hidup dia sering membantah ayahnya dan selalu membuat ayahnya marah.Aisyah hanya bisa meneteskan air mata dan ia begitu tegar dan tabah.

Beberapa Bulan kemudian setelah Kepergian Ayahnya. Bundanya memutuskan untuk menikah lagi. Semenjak itu kehidupan Aisyah berubah drastis karena tanpa sepengetahuan Aisyah bundanya menikah. Di situ Aisyah merasa kecewa dan entah apa yang harus ia lakukan.

“Tuhan! Semoga bunda bahagia dengan keputusan yang ia ambil. Aku harus ikhlas menerima semua ini.” Gumam Aisyah.

Saat-saat bundanya akan menikah Willy sangat-sangat tidak setuju sampai ia harus dititipkan di rumah saudaranya agar pernikahan itu berjalan dengan lancar.

Tetapi hati seorang anak tidaklah bisa dibohongi. Willy lari dengan cepat menuju rumahnya dan disana ia menanyakan bundanya.

“Bunda mana ka?” Tanya willy dengan nada heran karena saat itu banyak orang dirumahnya.

“Bunda lagi dirumah saudara lagi ada tamu” Aisyah menjawab dengan sangat ragu-ragu.

Willy yang saat itu baru berusia 9 tahun terus menangis dengan tersedu –sedu, hanya Aisyah yang menenangkan Willy, Aisyah pun tak kuasa menahan tangisan karena melihat Willy menangis histeris. Beberapa hari kemudian Willy pun baru mengetahui waktu malam itu ternyata bundanya menikah. Tapi lama kelamaan Willy mulai mengerti dan memaklumi bundanya.Semenjak itu Aisyah & Willy merasa kurang di perhatikan oleh bundanya,dan keuangan meraka pun semakin menipis.

Walaupun itu terasa berat untuk di jalani Tapi dengan kesabaran dan kemandirian Aisyah lah semua itu bisa teratasi tapi perasaan tidaklah mudah untuk di pendam.Aisyah sering menangis sendiri di kamarnya, semenjak itu Aisyah sering mengeluarkan air mata karena terlalu banyak kepedihan yang di rasakan Aisyah.

“Ya TUHAN, mengapa air mata hamba selalu menetes dan begitu sulit untuk dihentikan “gumam Aisyah.

Semenjak itu Aisyah dekat dengan neneknya dan Aisyah selalu berbagi cerita dengan neneknya.

“Syah, kamu harus sabar menghadapi cobaan ini mungkin tuhan menyimpan kebahagiaan di balik semua ini” nasehat nene.

“Iya nek, terima kasih nek” Aisyah pun memeluk Nenek.
Walaupun kehidupan Aisyah begitu menguras air mata, tapi Bella begitu sangat menyayangi orang tua, dan adiknya dan berharap kelak menjadi bahagia.
Share this article :
Comments
3 Comments
Facebook Comments by Petotu

+ komentar + 3 komentar

Posting Komentar

KOMENTAR ANDA SAYA BUTUHKAN
KOMENTAR ANDA AKAN SANGAT MEMBANTU SAYA
KOMENTAR ANDA MENJADI KEBANGGAAN SAYA
KOMENTAR ANDA LEBIH BERHARGA DARI BERLIAN

 
Support : Cara Gampang | Creating Website | Johny Template | Mas Templatea | Pusat Promosi
Copyright © 2011. SYIFA AL-QULUB - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Modify by CaraGampang.Com
Proudly powered by Blogger